Widayanto & Seni

Sebagai perupa tembikar profesional, Widayanto selalu mengedepankan konsep keindahan, sekaligus wadah penumpah ide gagasannya dalam menciptakan sebuah karya seni. Hasilnya, muncullah sebuah kejahilan artistik yang dinamis tanpa menghilangkan karakter Indonesia.

Menyambangi rumah seni Widayanto di bilangan Kuningan Jakarta Selatan, decakan kagum kami dari tim majalah Rumahku kerap muncul saat menelisik hasil karya seni perupa berusia 53 tahun ini. 

Perpaduan antara gagasan, konsep, niatan seni dan naluri gerak artistik bisa menyatu memberi pesan sosial kepada setiap orang yang  melihatnya. Tak hanya itu, karya seninya juga bisa dipakai atau dimanfaatkan sebagai benda seni yang sarat muatan lokal.Hal itulah yang mungkin mencuri hati Noriaki Kobayashi dan Purnomo Otto, dua pimpinan dari PT Pearland yang merupakan produsen kakap keramik porselen ekspor ini meminang Yanto panggilan akrab Widayanto menjejak lebih jauh ke panggung dunia seni rupa tembikar.
Kobayashi sendiri adalah pakar porselen putih jernih asal Jepang, sedangkan Budi adalah sosok yang ahli pada bidang manajemen sistem produksi dan perdagangan internasional boneka porselen.  Menurut kedua lelaki ini karya tembikar gubahan tangan Yanto penuh gerak dinamik dan gestur serta mimik lengkap dengan kerumitan detail-detail dan pernik. Istimewanya lagi karya sang perupa jebolan Fakultas Seni dan Desain Institut Teknologi Bandung ini kental dengan karakter Indonesia.    

Karya seni yang berciri
Jika mengamati hasil karya seni Yanto, khususnya karya seni keramik yang disebut Master Piece sang perupa, sarat dengan ciri dan pesan sosial. Model buatan tangan Widayanto menurut Bagus Pursena, salah satu staf di PT Kharisma Porselen Indonesia memiliki ciri yang berbeda dengan beberapa perupa yang ada di Indonesia. “Pewarnaan glasir Yanto cenderung berwarna alami seperti coklat tanah, hijau pupus daun, biru kecubung dan kuning kepodang. Selain itu model buatannya dicetak dan dicor dalam jumlah terbatas serta memiliki sertifikat khusus,” sebut Bagus.
Tak hanya itu, teknik cor dan cetak glasir yang dilakukannya cenderung menggunakan pendekatan presisi terhadap kualitas produk. Pembakaran minimal dilakukan dua kali dengan suhu tertinggi di dalam tungku gas besar. Dan, sebelum dikeringkan atau dibakar selalu diberi hiasan glasir pewarna untuk kemudian dibakar dalam tungku gas besar. Sementara beberapa pekerjaan pemberian hiasan pada barang, semisal atribut pada figurin serta torehan, pilinan dan sentuhan tegas pada permukaan tembikar yang khas tetap dkerjakan secara manual.
   
Bebas dari bahan berbahaya
Sejak bersepakat membentuk PT Kharisma Tembikar Indonesia dengan Budi Otto pada awal tahun 2008 lalu, otomatis produk tembikar khas Yanto dimerger di bawah manajemen perusahan dan pabrik di Balaraja. Namun, hasil manufaktur tembikar itu terpisah dalam hitungan bisnis dengan produk porselennya.
Pendekatan produk manufaktur itu diharapkan juga untuk menangkal persaingan tidak sehat dengan pesaing yang selalu mengekor sambil meniru serta menjiplak hasil karya seni Widayanto. Sebab, bagi peminat dan pembeli, mereka sudah maklum akan beda kualitas seni barang tiruan dan aslinya, termasuk paham harga asli dan banderol barang tetiron itu.  Tak hanya itu, produk seni khususnya benda tableware atau peralatan makan dan minum, dipastikan telah mengantungi sertifikat bebas dari bahan berbahaya (hazardous substance free).