Guratan Patung Perunggu Dolorosa Sinaga
- Kategori Induk: TIPS & ACCESSORIES
- Diperbarui: Senin, 26 Oktober 2015 08:53
- Ditayangkan: Rabu, 12 Mei 2010 19:26
- Ditulis oleh admin1
- Dilihat: 99199
- 12 Mei
Setiap orang memiliki cara tersendiri untuk mengungkapkan suatu hal yang mengganggu perasaannya. Jika orang lain berteriak, maka seorang Dolorosa Sinaga menggurat perunggu untuk meneriakkan aspirasinya.“Melalui patung perunggu yang kental dengan gaya ekspresionis Doloro mampu meneriakkan protes kerasnya terhadap fenomena sosial yang terjadi di masyarakat.”
Sedikit menilik sejarah tren patung perunggu di Indonesia, tidaklah terlepas dari peran para pedagang Vietnam dalam upaya penyebaran agama dan kebudayaan Hindu di Indonesia. Pada zaman dahulu, sekitar tahun 1000 SM hingga 1 SM, patung-patung ini dibawa dari Dongson Vietnam saat Kebudayaan Dongson mulai berkembang di Indochina. Pengaruh kebudayaan Dongson ini juga berkembang menuju Nusantara, yang kemudian dikenal sebagai masa kebudayaan Perunggu.
Kebudayaan Dongson secara keseluruhan dapat dinyatakan sebagai hasil karya kelompok bangsa Austronesia, terutama yang menetap di pesisir Annam, dan berkembang antara abad ke-5 hingga abad ke-2 Sebelum Masehi. Kebudayaan ini sendiri mengambil nama situs Dongson di Tanh hoa.
Selanjutnya kebudayaan perunggu berkembang dan melebur dengan kebudayaan Hindu di Indonesia. Adalah Dolorosa Sinaga yang dikenal piawai dalam mengaplikasikan perunggu menjadi sebuah patung yang sarat dengan nilai seni. Tidak cukup sampai disitu Dolorosa juga terkenal kritis pada setiap hasil karya seninya.
Sikap skeptis akan permasalahan perempuan serta beragam kritik sosial terkadang Ia sampaikan melalui patung-patung perunggu. Dengan gaya ekspresionis Doloro mampu meneriakkan protesnya terhadap fenomena sosial yang terjadi di masyarakat.




Eksistensi dan Presistensi
Akhir-akhir ini seni patung di Indonesia seakan mulai kehilangan eksistensinya. Para pematung kebanyakan lupa akan konsep pesan yang disampaikan melalui karya seninya, sehingga mengakibatkan karya mereka seolah kehilangan jiwa.
Namun tidak dengan Dolorosa. Terukir jelas ekspresinya sebagai seorang pematung wanita yang gigih dalam menggali ide-ide penciptaannya lewat setiap karya patung perunggunya. Melalui bentuk-bentuk yang sederhana namun sarat nuansa keanggunan, mencerminkan kematangan dan pengalaman dalam proses berkarya.
Sudah jelas bahwa ia bukan seniman ‘instant’ yang lahir begitu saja. Representasi setiap ide tentang bahasa tubuh dan kekuatan bentuk, menjadi ciri khas dari setiap karya patung perunggunya. Begitu pula dengan gesture wajah dengan subject matter khususnya figur perempuan.
Semuanya dihadirkan melalui bentuk yang tidak realis, akan tetapi diekstrasi sehingga menjadi figuratif. Karyanya tidak meninggalkan karakter tubuh manusia, yang tercipta melalui pemahaman mendalam mengenai anatomi. Demikianlah bentuk eksistensi dan presistensi seorang Dolorosa Sinaga melalui karya-karyanya, sehingga timbul pemahaman tersendiri bagi setiap figur perunggu yang terukir. Tak hanya figur mati, melainkan sebuah patung perunggu yang berbicara lantang didalam kediamannya.
Bentuk Kritik Sosial
“Seniman berkarya berdasarkan apa yang ia rasakan,” begitulah seharusnya seorang seniman bekerja. Beragam fenomena sosial khususnya permasalahan seputar perempuan yang cukup mengganggu perasaannya, ia tuangkan melalui sebuah patung perunggu.
Perunggu, si material tak lazim untuk sebuah patung, dijadikannya media penyampaian sikap kritis dan skeptisnya. Memang kebanyakan patung perunggu hasil karyanya bercerita mengenai persoalan gender, khususnya wanita. Namun tak hanya itu saja, persoalan sosial dan politik juga kerap disampaikan melalui sebilah perunggu.
Dimulai dari sebuah sketsa, kemudian membuat cetakan dengan tanah liat dan menyiram perunggu kedalamnya, begitulah sekilas tentang pengerjaannya. Sedangkan untuk finishing-nya menggunakan teknik patinasi sebagai pewarnaannya, dengan campuran beragam bahan kimia seperti HCL, soda api, ferix, dan chlorid. Dan, hasilnya adalah sebuah simponi manis dari perunggu padat yang sarat makna sosial.



















