Bukan Sekadar Membangun Kota: Bagaimana Paradise Indonesia Membaca dan Membentuk Masa Depan Urban
- Kategori Induk: LIFESTYLE & LEISURE
- Diperbarui: Selasa, 14 April 2026 01:43
- Ditayangkan: Minggu, 12 April 2026 09:28
- Ditulis oleh adminrumahku
- Dilihat: 159
- Cetak
- 12 Apr
Ruang kota terus tumbuh dan berubah. Ia tidak pernah benar-benar diam.
Ia bergerak, beradaptasi, dan diam-diam memilih siapa yang mampu membentuk masa depannya.
Di antara bangunan yang berdiri kokoh, ada ruang yang mengundang, meninggalkan kesan, dan pada akhirnya menjadi destinasi. Di situlah Paradise Indonesia (PT Indonesian Paradise Property Tbk/INPP) meninggalkan jejaknya—memberikan ruang beraktivitas sekaligus pengalaman bagi penggunanya.
FX Sudirman - salah satu portofolio Paradise Indonesia, ikonik dan tetap bertahan ramai pengunjung di tengah gempuran pusat perbelanjaan lain. (Foto : istimewa/ INPP)
Paradise Indonesia tidak hanya membangun properti fisik. Ia menciptakan ruang pengalaman—ruang yang menghidupkan kawasan dan memicu lahirnya aktivitas ekonomi baru.
Berkiprah selama lebih dari dua dekade, Paradise Indonesia telah menghadirkan portofolio di berbagai kota —Jakarta, Bandung, Bali, Batam, Yogyakarta, hingga pengembangan terbaru yang segera hadir di Semarang. Portofolionya meliputi residensial, ritel komersial, hingga hotel, membentuk ekosistem ruang hidup yang saling terhubung—bukan sekadar bangunan yang berdiri sendiri.
Bagi Paradise Indonesia, arsitektur bukan sekadar tentang membangun fisik, melainkan tentang bagaimana sebuah ruang dapat dirasakan. Pengembang ini konsisten menghadirkan ruang-ruang lebih dari sekadar aspek visual dan fungsional. Lebih dari itu, mereka juga terus mencari cara baru untuk memastikan kebahagiaan pengguna melalui proyek yang relevan dengan kebutuhan lokal. Tak heran jika karya-karya kerap menjelma menjadi destinasi ikonik, bukan sekadar bangunan—tempat orang datang, tinggal, dan ingin kembali.
Pertumbuhan Bisnis, Strategi di Balik Estetika
Di balik keindahan arsitekturnya, INPP berdiri di atas pondasi bisnis yang kokoh. Melalui strategi 4M (Managemen, Material, Metode, dan Manusia) serta fokus pada kawasan mixed-use, perusahaan berhasil memperkuat pendapatan berulang (recurring income). Transformasi portofolio ini menjadi kunci pertumbuhan jangka panjang. Perseroan menargetkan porsi recurring income mencapai 75 persen dari total pendapatan konsolidasi pada 2026— sebuah strategi yang membuat INPP tetap tangguh di tengah dinamika pasar properti nasional.

President Director & CEO Paradise Indonesia, Anthony Prabowo Susilo dan Direktur PT Mitra Gemilang Mahacipta, Diana Solaiman (Foto : Susi W)
President Director & CEO Paradise Indonesia, Anthony Prabowo Susilo menegaskan bahwa kekuatan utama perusahaan bukan hanya pada kepemilikan aset, melainkan pada kemampuan menciptakan nilai pengalaman. “Kami optimis dapat terus tumbuh berkelanjutan melalui pengembangan ekspansi terukur di wilayah potensial,” ungkapnya.
Penyelamatan Aset
Keberhasilan INPP dalam mengakuisisi dan merestrukturisasi proyek properti mangkrak, menjadi salah satu catatan emas di industri properti. Proyek Antasari Place di Jakarta yang diambil alih pada saat pandemi di tahun 2021 adalah bukti nyata integritas perusahaan.
“Antasari Place kembali menjadi pembuktian INPP sebagai perusahaan yang 100 persen berhasil menyelesaikan proyeknya,” tegas Anthony. Kini, Antasari Place telah bertransformasi dari sekadar hunian menjadi kawasan mixed-use terintegrasi yang memahami budaya social gathering masyarakat Jakarta Selatan yang dinamis.
Antasari Place sukses menjadi kawasan mixed-use terintegrasi, sebuah bukti nyata integritas perusahaan dalam mengakuisisi dan merestrukturisasi proyek properti mangkrak. (Foto : Susi W)
Pola yang sama kini dibawa ke Kalimantan. Seiring hadirnya IKN, INPP tengah menghidupkan kembali lahan seluas delapan hektare di Balikpapan yang hampir satu dekade terbengkalai, melalui proyek 88 Plaza Balikpapan. Dengan konsep low density development, kawasan ini memadukan hotel bintang empat internasional, ruko modern, dan open plaza berkonsep alfresco. Kehadirannya diprediksi akan menggeser citra Balikpapan dari kota industri yang "kaku" menjadi Liveable City yang "cair" di gerbang utama Ibu Kota Nusantara (IKN).
Kehadiran 88 Plaza Balikpapan tidak hanya menjawab kebutuhan pasar, tetapi juga menjadi destinasi baru sekaligus bagian dari pembentukan pusat aktivitas urban baru di Balikpapan. Proyek ini rencananya akan diluncurkan pada April 2026, dengan pembangunan dimulai pada kuartal ketiga tahun yang sama.
Komitmen ESG dan Keberlanjutan
Bagi Paradise Indonesia, keberlanjutan bukan sekadar slogan—melainkan sistem kerja. Di tengah ekspansi bisnis, pengembang ini tetap menempatkan keberlanjutan sebagai pijakan utama. Prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) diintegrasikan dalam setiap proyek, sejak tahap desain hingga operasional.
Proyek 23 Paskal Extension di Bandung dan 23 Semarang menunjukkan bagaimana efisiensi energi, pengelolaan limbah, material ramah lingkungan, sistem RO water management, dan desain pasif dapat berjalan beriringan dengan pengalaman ruang.
Di Bandung, misalnya, 23 Paskal Extension menghadirkan skylight di atrium utama untuk memaksimalkan pencahayaan alami, yang didukung teknologi pendinginan dan sistem ventilasi modern untuk menjaga kenyamanan termal tanpa pemborosan energi. Tersedia juga Skywalk Rooftop Outdoor Themepark seluas 2.600 meter persegi yang menjadi ruang interaksi terbuka untuk memfasilitasi gaya hidup masyarakat urban Bandung yang gemar berinteraksi di ruang terbuka hijau.
Kehadiran 23 Paskal Extension bukan sekadar menambah destinasi belanja dan hiburan, melainkan memperluas ruang interaksi sosial serta membuka peluang ekonomi baru. Dalam konteks yang lebih luas, kawasan ini turut memperkuat posisi Bandung sebagai destinasi unggulan belanja dan kuliner.
Sementara itu, 23 Semarang yang berlokasi di kawasan utara Semarang dengan suhu lingkungan cenderung tinggi menerapkan konsep forest inner court—ruang terbuka hijau di tengah bangunan yang menjadi pusat aktivitas. Kehadiran pepohonan rindang dan tanaman tropis menciptakan nuansa alami yang kontras dengan citra mal konvensional. Penggunaan elemen air dimanfaatkan bukan hanya sebagai estetika visual, tetapi sebagai strategi untuk menurunkan suhu lingkungan.
Penerapan konsep forest inner court—ruang terbuka hijau di tengah bangunan yang menjadi pusat aktivitas dilengkapi elemen air untuk menurunkan suhu lingkungan, merupakan implementasi prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) di 23 Semarang (Foto : Susi W)
Keberadaan 23 Semarang tidak hanya memperluas magnet kota, tetapi juga memperkuat ekosistem ekonomi masyarakat di sekitarnya. Kawasan yang semula relatif tenang akan berkembang menjadi titik aktivitas baru, membuka peluang sekaligus meningkatkan nilai kawasan.
Hal ini diamini oleh Arwita Mawarti, S.T, M.T., Kepala Dinas Perindustrian Kota Semarang, yang memandang kehadiran mal ini di kawasan Pearl of Java (POJ) City sebagai tren ekspansi kota yang positif.
Menurutnya, proyek ini efektif memecah kepadatan pusat kota dan menciptakan pusat ekonomi baru di sisi barat. “Kawasan pesisir utara Kota Semarang yang agraris kini bertransformasi menjadi koridor industri-pariwisata, yang disusul dengan dibukanya akses transportasi umum ke kawasan ini,” ungkap Arwita.
Keberadaan 23 Semarang memperluas magnet kota, sekaligus memperkuat ekosistem ekonomi masyarakat di sekitarnya. Kawasan yang semula relatif tenang akan berkembang menjadi titik aktivitas baru, membuka peluang sekaligus meningkatkan nilai kawasan. (Foto : Susi W)
Human-Centered Design: Menempatkan Manusia di Jantung Desain
Pada akhirnya seluruh pendekatan yang dilakukan bermuara pada satu hal: manusia. Melalui Human-Centered Design (HCD) Paradise Indonesia menempatkan pengguna sebagai pusat dari setiap proses perancangan. Langkah ini memastikan setiap proyek tidak hanya fungsional, tetapi juga menghadirkan kenyamanan emosional, pengalaman gaya hidup, serta relevansi dengan kebutuhan masyarakat yang terus berubah.
Pendekatan HCD pada proyek Paradise Indonesia terwujud dalam tiga pilar utama.
Pertama, pendekatan berbasis pengguna (consumer-focused) yang menghadirkan pengalaman emosional dan ikonik. Beachwalk Shopping Center & Beachwalk Residence (Bali) menjadi contoh dengan konsep gaya hidup terbuka (open-air) yang menyatu dengan pesisir pantai, sekaligus memberikan pengalaman berbelanja dan tinggal yang ikonik di pesisir pantai.
Beachwalk Shopping Center, pusat perbelanjaan yang dikemas leisure sesuai dengan lokasinya yang berada dekat pantai. (Foto : istimewa)
Kedua, konektivitas smart living —menyatukan hunian, ritel, dan taman luas dalam satu ekosistem terintegrasi untuk mendukung efisiensi gaya hidup modern sebagaimana tercermin di Antasari Place.
Ketiga, adaptasi terhadap perubahan. Ketangguhan INPP teruji saat pandemi melalui proyek 31 Sudirman Suites Makassar, yang tetap berjalan tepat waktu demi menyediakan hunian premium yang aman dan higienis. Pendekatan ini berhasil membuat INPP tetap mencatatkan pendapatan positif di tahun 2021 meskipun di tengah tantangan pandemi, karena produk yang dihasilkan relevan dengan kebutuhan pasar.
Paradise Indonesia tidak sekadar membangun kota. Ia membaca arah—dan membentuknya. Didukung rekam jejak yang kuat, kemampuan menghidupkan proyek mangkrak, serta komitmen pada keberlanjutan, pengembang ini menegaskan dirinya bukan sekadar pengembang properti. Ia adalah agen transformasi kota, menghadirkan ruang-ruang yang menjadi destinasi, ikon, sekaligus simbol optimisme masa depan.
Dari Jakarta hingga Balikpapan, dari Antasari Place hingga 88 Plaza, Paradise Indonesia terus membuktikan satu hal: properti bukan sekadar bangunan. Ia menciptakan pengalaman, memperkuat ekosistem ekonomi, dan membentuk wajah urban baru Indonesia yang lebih manusiawi dan berkelanjutan. (susi wijayanti)