Ditopang Recurring Income 90 Persen, INPP Optimistis Hadapi 2026
- Kategori Induk: LIFESTYLE & LEISURE
- Diperbarui: Jumat, 19 Jun 2026 09:02
- Ditayangkan: Jumat, 19 Jun 2026 08:59
- Ditulis oleh adminrumahku
- Dilihat: 75
- 19 Jun
Di tengah berbagai dinamika industri properti, pariwisata, dan kondisi ekonomi nasional, PT Indonesian Paradise Property Tbk (Paradise Indonesia/INPP) tetap optimistis menatap 2026. Perusahaan mengawali tahun ini dengan momentum positif setelah berhasil membalikkan kinerja kuartal pertama menjadi laba bersih, yang mencerminkan kuatnya fundamental operasional perusahaan.

Anthony Prabowo Susilo (Presiden Komisaris), Andri Hadi (Presiden Direktur) dan Surina (Wakil Presiden Direktur) dalam pemaparan Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) dan Paparan Publik
Dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) dan Paparan Publik yang digelar di Citadines Antasari, Jakarta Selatan, Kamis (18/6/2026), Wakil Presiden Direktur Paradise Indonesia, Surina, mengatakan sekitar 90 persen pendapatan perusahaan pada kuartal I-2026 berasal dari recurring income yang ditopang oleh portofolio pusat perbelanjaan, hotel, dan properti komersial lainnya.
Menurut Surina, arah pertumbuhan perusahaan tetap mengacu pada strategi 4M yang selama ini menjadi fondasi pengembangan Paradise Indonesia, yakni Middle-Up Market (segmen menengah atas), Mid-Size Development (proyek berskala menengah), Mixed-Use Concept (kawasan terpadu), dan Major Cities (kota-kota besar dengan aktivitas ekonomi yang kuat).
"Melalui pendekatan tersebut, kami fokus mengembangkan iconic lifestyle destination yang mampu menghasilkan pendapatan berulang sekaligus menjaga nilai aset dalam jangka panjang," ujar Surina.
Kinerja Kuartal I-2026 Tumbuh Positif
Sepanjang kuartal I-2026, INPP membukukan pendapatan sebesar Rp327 miliar, meningkat 14,3 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp286 miliar.
Pertumbuhan tersebut ditopang oleh peningkatan kontribusi dari seluruh segmen usaha. Bisnis hospitality mencatat pendapatan Rp157 miliar atau sekitar 48 persen dari total pendapatan, naik dibandingkan Rp135 miliar pada kuartal I-2025. Sementara itu, segmen komersial menyumbang Rp136 miliar atau sekitar 42 persen dari total pendapatan, meningkat dari Rp130 miliar pada periode yang sama tahun lalu.
Adapun segmen penjualan properti mencatat pertumbuhan tertinggi secara persentase, meningkat dari Rp25 miliar menjadi Rp34 miliar dan berkontribusi sekitar 10 persen terhadap total pendapatan perusahaan.
Peningkatan pendapatan tersebut turut mendorong perbaikan laba bersih yang kembali berada pada jalur positif. Berbeda dengan kuartal I-2025 yang terdampak faktor pencatatan akuntansi non-recurring dan penyesuaian terkait Dana Investasi Real Estat (DIRE), laba bersih pada kuartal I-2026 lebih mencerminkan hasil aktivitas operasional inti perusahaan.
Dengan kata lain, pertumbuhan yang diraih kali ini berasal dari kinerja bisnis yang organik dan berkelanjutan, bukan dari faktor akuntansi maupun keuntungan yang bersifat sementara.
Aset Terus Bertumbuh
Kekuatan fundamental INPP juga tercermin dari pertumbuhan aset yang konsisten dalam beberapa tahun terakhir. Total aset perusahaan meningkat dari Rp9,16 triliun pada akhir 2022 menjadi Rp9,35 triliun pada 2023, kemudian naik menjadi Rp9,72 triliun pada 2024 dan mencapai Rp10,18 triliun pada akhir 2025.
Hingga kuartal I-2026, total aset kembali meningkat menjadi Rp10,25 triliun. Tren ini menunjukkan konsistensi perusahaan dalam memperluas sekaligus meningkatkan kualitas portofolio asetnya.
Manajemen menegaskan bahwa penurunan laba bersih sepanjang tahun buku 2025 tidak mencerminkan pelemahan bisnis inti perusahaan. Penurunan tersebut lebih banyak dipengaruhi pencatatan akuntansi non-kas, termasuk penyesuaian nilai investasi dan aset, serta tidak berulangnya keuntungan satu kali (one-off gain) dari proyek Antasari Place yang sebelumnya memberikan kontribusi signifikan terhadap laba tahun 2024.
Di sisi lain, EBITDA tetap mencatatkan pertumbuhan, menunjukkan operasional perusahaan yang tetap kuat dan mampu menghasilkan arus pendapatan yang sehat.

23 Semarang Shopping Centre, sebagai destinasi terbaru warga Jawa Tengah (Foto : Susi - rumahku)
Perkuat Portofolio dan Tata Kelola
Memasuki usia tiga dekade, Paradise Indonesia terus memperkuat posisinya sebagai pengembang properti terintegrasi dengan fokus pada aset-aset berkualitas tinggi.
Saat ini, perusahaan memiliki portofolio yang mencakup 13 hotel dan dua serviced apartment, enam pusat perbelanjaan yang tersebar di Jakarta, Bandung, Bali, dan Semarang, serta enam proyek properti di Batam, Bali, Makassar, dan Jakarta.
Salah satu pencapaian terbaru perusahaan adalah suksesnya grand launching 23 Semarang pada 13 Juni 2026. Kehadiran pusat perbelanjaan ini memperkuat portofolio Paradise Indonesia sekaligus menjadi destinasi gaya hidup baru di Jawa Tengah.
Strategi pengembangan yang konsisten tersebut telah mendorong pertumbuhan aset perusahaan hingga sekitar sembilan kali lipat sejak 2005.
Dengan fondasi bisnis yang semakin kuat serta diversifikasi pendapatan yang seimbang antara segmen hospitality, komersial, dan properti, kinerja kuartal I-2026 memberikan sinyal positif terhadap prospek pertumbuhan perusahaan ke depan.

Pada kesempatan yang sama, RUPST juga menyetujui perubahan susunan manajemen perusahaan. Andri Hadi ditunjuk sebagai Presiden Direktur, Surina sebagai Wakil Presiden Direktur, serta Amelia Gozali, Diana Solaiman, dan Karel Patipeilohy sebagai Direktur. Sementara itu, Anthony Prabowo Susilo menjabat sebagai Presiden Komisaris.
Masuknya tiga perempuan dalam jajaran direksi menjadi bagian dari komitmen perusahaan terhadap prinsip keberlanjutan dan keberagaman. Langkah ini sejalan dengan fokus Paradise Indonesia pada tiga target Sustainable Development Goals (SDGs), yaitu SDG 5 tentang Kesetaraan Gender, SDG 8 tentang Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, serta SDG 11 tentang Kota dan Komunitas Berkelanjutan.
Dalam aspek sosial, perusahaan juga terus menjalankan berbagai program pemberdayaan masyarakat, pengembangan sumber daya manusia, serta mendorong kesetaraan gender di lingkungan kerja.



















